<< Kembali

 

Pelayan yang diperkenan Tuhan

Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. (2 Timotius 2:15)

 

Sebuah perusahaan profesional yang mencari pekerja pasti akan menuntut kualifikasi tertentu. Kualifikasi tersebut antara lain adalah ijazah dari universitas, memiliki keahlian sesuai dengan bidangnya dan penguasaan bahasa dsb. Bagaimana dengan seorang pelayan Tuhan di gereja? Tentu setiap pelayan seharusnya memiliki kemampuan dan penguasaan metode dalam bidang pelayanan masing-masing. Tanpa keahlian dan metode pelayanan yang tepat, pelayanan yang dilaksanakan tidak akan maksimal hasilnya.

Tetapi bagi seorang yang melayani Tuhan, yang lebih penting adalah karakternya daripada kemampuannya. Apakah ia bermental seperti Yudas Iskariot yang sampai hati mengkhianati Yesus, gurunya atau seperti Petrus yang walaupun gagal, tetapi mau mengakui kesalahannya dan bersedia dibentuk terus untuk menjadi semakin setia kepada Yesus, Tuhan dan gurunya? Atau seperti Demas yang lebih tertarik kepada tawaran dunia daripada menjalani pelayanan yang silih berganti penderitaan dan sukacita. Atau seperti Timotius, seorang yang lemah tetapi senantiasa mau dibentuk dan dibimbing oleh orang tua rohaninya, Paulus?

Sebagai seorang murid Tuhan apakah kita cepat berpaling dari pelayanan karena alasan sibuk? Sibuk sekolah, deadline dalam pekerjaan, repot urus dapur dan anak-anak? Seorang pekerja Tuhan harus mengatur dan mengusahakan waktu untuk melayani, dengan tidak mengabaikan tanggung jawab yang lain yang Tuhan percayakan. Hal ini hanya mungkin, jika kita mau “berkorban” untuk verzichten rasa nyaman, kurang tidur, verpasst Freizeit dan sebagainya. Jika kita memahami pengorbanan Tuhan Yesus bagi kita, tentu pengorbanan-pengorbanan itu patut dilakukan buat Dia dan pelayanan-Nya.

Selain berusaha, seorang pekerja atau pelayan Tuhan harus berkomitmen untuk memberitakan kebenaran Firman Tuhan. Ia tidak hanya fokus terhadap cara dan program yang harus dijalankan. Tetapi fokusnya adalah orang-orang yang dilayani supaya mereka bertumbuh, bukan untuk menyenangkan mereka dengan memberitakan apa yang enak dan suka didengar. Sebaliknya seluruh kebenaran Alkitab akan diberitakan. Yang terpenting adalah apa yang Tuhan ingin mereka dengarkan, itu yang disampaikan.

Karena itu tidak bisa tidak, seorang pelayan Tuhan harus dengan rajin dan tekun menyelidiki firman Tuhan. Setelah memahaminya, ia harus mengamalkannya dan pada akhirnya mengajarkannya kepada orang lain. Ini penting supaya ia tidak menjadi seorang yang munafik. Pandai mengajarkan tetapi bodoh dalam kelakuannya.

Dengan anugerah Allah, apabila kita sudah mengusahakan karakter yang mau berkorban dan bersedia dibentuk-Nya, juga berkomitmen untuk setia memberitakan firman kebenaran, kita tidak usah malu di hadapan Allah dan terus memuliakan-Nya. Apakah kita adalah murid yang berkarakter demikian?

(Juli 2012)