<< Kembali

 

Natal yang berkenan di hati Allah

Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. (Lukas 2:18-20)

 

Natal sering kali diidentikkan dengan kegemerlapan dan kemewahan. Juga kerap dipenuhi dengan acara-acara yang begitu bagus dan begitu banyak yang persiapannya menghabiskankan waktu berbulan-bulan. Pada akhirnya natal merupakan hari raya yang mengakibatkan banyak rohani-wan (baca: pendeta), majelis dan para aktivis gereja mengalami kelelahan setelah acara berlalu. Banyak orang menganggap pola perayaan natal seperti inilah yang diperkenan Allah. Apakah anggapan ini benar?

Natal yang berkenan kepada Allah adalah berita natal yang direspon dengan tepat oleh para pendengarnya. Apakah respon yang tepat terhadap kabar sukacita, lahirnya Yesus ke dalam dunia ini?

 

1. Merasa takjub atas kelahiran Yesus (ayat 18)

Ketika para gembala sedang menggembalakan domba di padang pada malam hari, mereka dikejutkan dengan terang yang besar. Malaikat Gabriel memberitakan kepada mereka bahwa “hari ini telah lahir bagimu Juruselamat yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud.” Pada mulanya mereka ketakutan, tetapi kemudian mereka diyakinkan dan percaya kepada berita kelahiran itu dan mereka bersukacita.

Setelah malaikat meninggalkan para gembala, mereka segera pergi menjumpai Maria dan bayi Yesus yang baru dilahirkan itu. Sesampai di situ, mereka menceritakan apa yang telah disampaikan oleh malaikat kepada mereka. Semua orang yang ada di situ menjadi takjub dan heran atas apa yang dikatakan tentang Anak itu. Mengapa mereka takjub dan heran? Karena Yesus telah lahir secara ajaib. Betapa tidak ajaib, Yesus yang tidak terbatas, membatasi diri-Nya selama sembilan bulan di dalam kandungan Maria! Dia yang Maha Kuasa dan menciptakan segala sesuatu serta yang empunya segala sesuatu, pada saat lahir tidak ada tempat bagiNya. Dia harus lahir di tempat yang hina dan tidak layak yakni di palungan dalam kandang yang kotor dan bau!

Masihkah, waktu memperingati natal, kita merasa heran dan takjub atas kelahiran Yesus di dunia ini? Ataukah kita hanya terbawa suasana gemerlap dan riuh sepanjang minggu-minggu yang penuh dengan acara natal yang melelahkan?

 

2. Menyimpan dan merenungkan kelahiran Yesus dalam hati (ayat 19)

Sebelum para gembala mendengarkan berita sukacita dari malaikat Gabriel, Maria telah terlebih dahulu mendengar dari malaikat yang sama bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang putra, yang akan diberi nama Yesus. Pengalaman para gembala mengkonfirmasi apa yang disampaikan malaikat kepada Maria. Semua ini disimpan dalam hati dan direnungkan Maria. Maria menyimpan dan merenungkan terus-menerus berita yang menakjubkannya dan mengherankan bagi semua orang yang mendengarkannya.

Apakah di dalam kesibukkan mempersiapkan natal, kita masih sempat mengingat dan memikirkan bahwa Yesus telah lahir dan telah mengampuni dosa kita? Hendaknya kita tidak hanya merenungkan kasih ajaib Yesus bagi kita selama masa natal saja, tetapi kita ingat dan pikirkan dalam sepanjang hidup kita.

 

3. Memuliakan dan memuji Allah karena berita kelahiran Yesus (ayat 20)

Setelah berjumpa dengan bayi Yesus, para gembala kembali ke dalam keseharian mereka, menggembalakan domba-domba. Tetapi sekarang hati mereka sudah dipenuhi dengan sukacita, walaupun mereka tetap menjadi gembala, sebuah pekerjaan rendahan dan tetap menyandang status kaum marginal. Mereka memuliakan dan memuji Allah karena mereka telah mendengarkan kabar sukacita yang menakjubkan dan telah membuktikan bahwa Allah tidak berbohong, bahwa telah lahir Juruselamat bagi dunia.

Kata ”memuji”, menunjukkan kebaikan yang telah Allah perbuat bagi mereka dan kata ”memuliakan” menyatakan kebesaran karya Allah bagi mereka. Para gembala tahu bahwa Allah telah menyatakan kebaikan kepada mereka. Betapa tidak, mereka yang dianggap hina dan terpinggirkan, menjadi orang-orang yang pertama menerima berita natal dan akhirnya mereka boleh bertemu Juru Selamat dan diselamatkan. Mereka juga boleh mengerti kebesaran karya Allah. Betapa tidak, Allah yang Maha Kuasa datang kepada mereka yang tidak berdaya. Allah pencipta masuk ke dalam sejarah untuk hidup di tengah-tengah manusia berdosa. Allah yang kudus datang untuk mencari mereka. Itu alasan yang membuat mereka untuk tidak habis-habisnya memuji dan memuliakan Allah.

Apakah kita terus-menerus memuliakan dan memuji Allah dalam hidup kita? Bukan hanya dengan mulut kita, tetapi juga melalui kehidupan kita yang terus ditransformasi menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus Kristus yang telah lahir untuk kita.

Akhirnya selamat hari Natal dan semoga peringatan natal kita semakin diperkenan Allah karena kita merasa takjub, merenungkan terus berita natal yang mengherankan serta memuliakan dan memuji Allah terus-menerus.

(Desember 2011)