<< Kembali

 

Kesukaan untuk memberi

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7)

 

Menurut saudara, mana yang lebih berbahagia, jika saudara memberi atau menerima? Pada umumnya orang akan merasa berbahagia jika mereka bisa mendapatkan sesuatu yang gratisan, daripada harus memberi. Namun Tuhan Yesus berkata: "Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima" (Kis. 20:35b). Sebab dalam kotbah di bukit, Tuhan Yesus mengajarkan juga: "berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan" (Mat. 5:7).

Rasul Paulus meneruskan pengajaran ini kepada orang-orang percaya di Korintus. Dengan menjadikan jemaat Makedonia sebagai teladan, yang secara materi lebih miskin dari jemaat Korintus, ia mendorong orang-orang Korintus untuk mengambil bagian dalam penderitaan jemaat Yerusalem. Mereka diminta untuk membantu jemaat Yerusalem yang miskin dengan persembahan/keuangan mereka.

Ada beberapa prinsip dalam hal memberi yang diajarkan Paulus kepada mereka. Pertama, pemberian itu harus tulus dan sukacita, sebab Allah mengasihi orang yang memberikan dengan sukacita. (ay. 7). Kedua, Allah akan mencukupkan dan memberkati mereka yang memberi dengan kelimpahan sehingga mereka dapat semakin memberikan (ay. 8-10). Ketiga, melalui pemberian itu akan melimpah syukur kepada Allah oleh mereka yang menerimanya dan pada akhirnya nama Allah dipermuliakan (ay. 11-15).

Jadi memberi merupakan gaya hidup orang yang telah mengerti dan menerima anugerah Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Orang dunia tidak akan pernah memahami Ams. 11:24, "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan". Dalam memberi, motivasi kita bukanlah untuk "mendapatkan sesuatu", tetapi adalah memuliakan Allah dengan menerima berkat Allah sebagai "efek sampingnya". Karunia memberi berarti bahwa kita sungguh-sungguh percaya bahwa Allah adalah sumber dari apa yang kita miliki dan kita menggunakan sumber-sumber materi dan rohani kita sebagaimana mestinya.

(Juli 2014)